Berita kawan Pramuka kita

Rabu, 20 April 2011

1 komentar

Malam tadi, sebagai anggota Gerakan Pramuka saya merasa terharu saat menyaksikan berita ditelevisi tentang kegiatan Perkemahan Pramuka yang pesertanya terdiri para kawan-kawan narapida dari berbagai lembaga pemasyarakatan Se-Jawa dan Bali. Ini merupakan hal menarik dan sarat manfaat. Sangat wajar jika kegiatan ini tercatat dalam Museum Rekor Indonesia (MURI).

Berikut ini beberapa cuplikan berita yang saya copy paste dari hasil googling pagi ini.


225 Narapidana Ikut Jambore Pramuka Di Cibubur

TEMPO Interaktif, Jakarta - Sekitar 225 anak narapidana dari 4 provinsi mengikuti Jambore Raimuna Pemasyarakatan di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur. Acara jambore narapidana anak dan remaja ini dilaksanakan sampai Kamis mendatang. "Ini pertama kali dilaksanakan," ujar Arief Dwi Meiwanto, Kepala Humas Kantor Wilayah Departemen Hukum dan Ham di Cibubur, Jakarta Timur, Selasa (12/4). Lebih lengkapnya Klik disini.

150 Napi Ikuti Raimuna Pemasyarakatan 2011

Sepintas memang tak ada yang berbeda dari peserta upacara pembukaan Raimuna Pemasyarakatan 2011 yang digelar di Bumi Perkemahan Cibubur pada Selasa (12/4). Dengan berbaris rapi dan mengenakan seragam pramuka lengkap, para peserta perkemahan ini terlihat khusyuk mendengarkan hymne pramuka. Namun, siapa sangka jika setengah peserta yang berdiri di tengah lapangan dan mengikuti kegiatan perkemahan dalam lingkup area Jawa dan Bali ini adalah para narapidana (napi). Kegiatan perkemahan yang mengikutsertakan 150 napi dari berbagai ... Klik disini untuk membaca.

Sebagai anggota Gerakan Pramuka yang masih butuh banyak belajar. Saya sedikit agak bingung dengan berita dibeberapa media online yang saya baca.

Pertama, Berita di Media Tempo berjudul "225 Narapidana Ikut Jambore Pramuka Di Cibubur" sedangkan Website Kantor  Wilayah Kementerian Hukum dan HAM DKI Jakarta menulis "150 Napi Ikuti Raimuna Pemasyarakatan 2011". Saya juga tidak tahu mana sumber yang benar? Sesungguhnya Jambore dan Raimuna itu berbeda.

Kedua, Selain kedua media online yang saya sebutkan diatas juga ada beberapa media lain blog pribadi yang memuat berita serupa. Kenapa sih? Kata Narapidana (NAPI) bagitu ditonjol-tonjolkan. Apakah ini untuk menarik minat pembaca atau kegitan seperti ini terdengar aneh.
Sebenarnya didalam Gerakan Pramuka itu tidak mengenal perbedaan latar belakang atau status sosial. Miskin atau kaya, putih atau hitam, cantik atau jelek kita semua sama warga Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Hal seperti ini merupakan langkah tepat sebagai upaya meningkatkan kualitas generasi muda Indonesia. Narapida, apakah karena kalimat itu kita lantas memvonis mereka adalah anak-anak jahat? Mereka harus menjalani masa tahan atas kesalahan yang mereka lakukan tapi mereka juga manusia yang mempunyai hati dan perasaan serta mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi lebih baik.

Ketiga, mengenai garis polisi yang pasang untuk membatasi ruang gerak para para peserta agar tidak kabur itu hanya menandakan belum maksimalnya penerapan dan pemahaman tentang  Tri Satya dan Dasa Darma Pramuka. Jika mereka telah benar-benar memahami serta mengamalkan Tri Satya dan Dasa Darma Pramuka pastilah mereka tidak akan kabur.

Selamat buat kawan-kawan semua yang telah mengikuti kegiatan ini, teruslah tempa dan persiapkan diri kalian untuk kembali ke masyarakat. Ibu Pertiwi akan senantiasa menerima kalian sebagai insan-insan muda untuk turut membangun Bangsa dan Negera Indonesia tercinta.

Ni Wayan Mertayani: Gadis Pemulung dari Bali, Menang Lomba Foto Internasional Museum Anne Frank

Sabtu, 02 April 2011

5 komentar
Googling pagi ini membuatku terdiam sejenak, berpikir sambil menarik napas dalam, Ni Wayan Mertayani. Sebagian orang sudah pasti tahu hal ini tapi aku juga yakin masih ada yang belum mengetahui siapa Ni Wayan Mertayani, berikut ini saya copy paste dari beberapa website berikut ini.

Ni Wayan Mertayani: Gadis Pemulung dari Bali, Menang Lomba Foto Internasional Museum Anne Frank 
Alur hidup Mertayani bisa dikatakan hampir mirip Anne Frank. Sama-sama hidup dalam tekanan, tapi penuh harapan dan cita-cita. Dan, ternyata Mertayani pun mengagumi Anne Frank setelah membaca bukunya yang sesungguhnya sebuah diary.
Ada kemiripan hidup antara Mertayani dan Anne Frank. Sama-sama ditekan dalam sebuah kondisi yang begitu menyulitkan. Bedanya, Anne yang keturunan Yahudi besar di bawah tekanan tentara Nazi pada masa itu, sementara Mertayani besar di bawah tekanan ekonomi.
Kondisi ekonomi yang sangat sulit memaksa Mertayani harus dewasa di usianya yang masih 14 tahun. Sehari-harinya, Mertayani membantu ibunya berjualan asongan di pinggir pantai selain menjalani tugas belajar sebagai siswi di SMPN 2 Abang. Kadangkala, dia ikut mencari barang rongsokan di tepi pantai.
Mertayani merupakan putri sulung almarhum I Nengah Sangkrib dan Ni Nengah Sirem. Sejak ayahnya meninggal, Mertayani tinggal bersama ibunya Ni Nengah Sirem dan adiknya Ni Made Jati. Sejak itu pula, tiga wanita ini berjuang untuk melanjutkan hidupnya dari hari ke hari dengan berjualan atau mencari barang rongsokan.
Aktivitas ini sama sekali tak pernah terbersit dalam benak Mertayani untuk dilakoni. Namun ketabahan ibunya dalam menjalani itu semua membuat Mertayani cuek terhadap cibiran di sekelilingnya. Dan, siapa menyangka, dari aktivitas mengasong dan mencari barang rongsokan, Mertayani justru kenal dengan para wisatawan. Termasuk Mrs Dolly Amarhoseija yang meminjamkan kamera digital serta mengajarkan Mertayani cara membidikannya.
Mertayani sendiri mengaku kagum dengan sosok Anne Frank. Sosok belia ini penuh dengan harapan dan cita-cita meski kenyataannya hidup dibawah tekanan. “Saya mulai mengaguminya (Anne Frank,Red) sejak membaca buku-bukunya,” kata Mertayani.
Dari bacaan itu juga, Mertayani seperti mendapat sokongan semangat bahwa hidup itu memang harus dijalani. Suka duka harus diarungi tanpa harus menanggalkan cita-cita atau harapan. Soal cita-cita, Mertayani sendiri mengaku hendak menjadi wartawan.
Apa yang dialami Mertayani itu ternyata tak berlebihan. Ibunya, Ni Nengah Sirem menuturkan bagaimana pedihnya membesarkan Mertayani dan adiknya, Ni Made Jati. Saat menerima kenyataan bahwa harus ditinggalkan suaminya, Ni Nengah Sirem harus berjuang seorang diri membesar dua putrinya.
Pernah sekali waktu, saat dirinya mencari rongsokan, Sirem dikerjai. Ceritanya, saat itu dirinya sedang sibuk mencari barang rongsokan di tepi pantai. Kemudian, ada seseorang mengatakan bahwa ada tempat yang banyak terdapat barang rongsokannya. Mendengar itu, Sirem langsung bergegas ke tempat tersebut. Tak dinyana, sesampainya di sana bukannya barang rongsokan yang ditemuinya, melainkan bangkai anjing. “Saya cuma bisa bersabar saja,” kata Sirem saat mendampingi Mertayani.
Meski hidup serbakekurangan, ada satu hal yang selalu diajarkan Sirem kepada dua orang puterinya yakni keikhlasan. Karena itulah rumah Mertayani kerap didatangi para wisatawan. Bahkan, sampai ada yang menginap dan Sirem harus menyediakan makanan dengan memotong beberapa ekor ayam peliharaannya.
”Tempo hari ada tamu cewek-cewek dari Italia. Mereka menginap di sini. Mereka nggak keberatan tidur di atas bale. Karena tempat tidur yang kami punya memang hanya itu saja,” pungkas Sirem.
Dengan prestasi yang diperoleh Mertayani, Sirem kini tambah semangat. Apa yang dia yakini dan lakukan selama ini ternyata tidak sia-sia. Dia pun berharap, anaknya itu bisa mewujudkan apa yang menjadi cita-citanya.
Sumber: http://www.indonesiaberprestasi.web.id/?p=5411

Ni Wayan Mertayani, Ayam dan Mimpi jadi Wartawati
Dengan langkah malu-malu, Ni Wayan Merta-yani, 14 tahun, menemui sejumlah wartawan di Radio Netherlands Training Centre di Hilversum, Belanda, Kamis pekan lalu. Dia hanya mengenakan jumper- jaket tipis bertutup kepala-berwarna abu-abu, kaus oblong, dan sepatu kets. Matanya langsung berbinar melihat para kuli tinta menyingkirkan udara dan angin dingin yang berembus kencang menggigit kulit. Maklum, Wayan amat terobsesi menjadi wartawati.
Buku The Diary of Anne Frank, tentang Annelies Marie FVank alias Anne Frank, menginspirasinya untuk rae-matri cita-cita terse-but Dolly Amarhosoija, turis asal Belanda. adalah orang yang memperkenalkan gadis asal Baniar Biasiantang, Desa Purwakerti. Kecamatan Abang. Karangasem, itu dengan sosok Anne yang menjadi korban Holocaust di Amsterdam, Belanda.
Tak cuma buku, Wayan juga meminjam kamera foto milik Dolly. Dia membuat 15 foto dengan kamera itu. Jepretan terakhirnya adalah sebuah potret pohon ubi karet dengan dahan tanpa daun yang tumbuh di depan rumahnya. Seekor ayam bertengger di salah satu dahan, serta handuk berwarna merah jambu dan baju keseharian yang dijemur di bawahnya.
Tak dinyana, foto sederhana itu memikat 12 fotografer kelas dunia dari World Press Photo yang menjadi juri lomba foto internasional 2009, yang digelar Yayasan Anne Frank di Belanda. Tema lomba yang yang diikuti 200 peserta itu adalah “Apa Harapan Terbesarmu?” Wayan menjelaskan, ayam itu simbolisasi diri dan kehidupannya. “Ayam itu kalau panas kepanasan, hujan kehujanan. Sama seperti saya,” ujarnya.
Sulung dari dua bersaudara ini memang berasal dari keluarga miskin. Ibunya, I Nengah Kirem, 52 tahun, sudah bertahun menderita ginjal dan harus bekerja serabutan. Ayah Wayan telah meninggal. Mereka tinggal di gubuk berdinding bilik bambu dengan satu kamar tidur.
Untuk menopang kehidupan, tiap sore hingga gelap menyergap, pelajar kelas HI SMP Negeri 2 Abang, Karangasem, itu berjualan kue jajanan di Pantai Kadang. Jika dagangannya laku, dia bisa memperoleh pendapatan hingga Rp 50 ribu. Tapi lebih sering dia rugi karena banyak yang tidak bayar. “Atau kalau tak habis saya makan sendiri, jadi ya rugi,” ujar Wayan tersipu.
Dia mengaku punya puluhan ayam dan bebek serta beberapa ekor kambing. Ayam-ayamnya pun dibiarkan berkeliaran tak dikandangkan. Terkadang Wayan harus menyabit rumput untuk memberi makan kambingnya sebelum berjualan. Namun, di sela kehidupan keras yang dilaluinya, Wayan biasa meluangkan waktu dengan membaca di perpustakaan milik Marie Johana Fardan, tetangganya yang warga Belanda pemilik vila Sinar Cinta di Pantai Amed.
“Sudah dua tahun dia menjadi langganan tetap perpustakaan. Dia menyukai buku Anne Frank itu,” ujar Marie, yang mengantar Wayan dan adiknya, Ni Nengah Jati, terbang ke Belanda.
Negeri Kincir Angin menjadi tempat pertama Wayan mengenal dunia di luar Bali Wayan mengaku .senang bisa menjejakkan kaki di Belanda, yang menurut dia bersih, ramai, meski cuacanya kurang bersahabat. “Senang tapi makanannya tidak enak, mentah-mentah. Lebih enak jajanan saya,” ujarnya disambut tawa hadirin.
Dari Yayasan Anne Frank, Wayan menerima hadiah berupa kamera saku dan sebuah komputer jinjing dari Radio Netherlands Wereldomroep. Rencananya, jika Yayasan Anne Frank mengadakan acara di Bali, dia akan diundang untuk memamerkan foto-fotonya. Radio Netherlands juga menawarkan tempat untuk Wayan mengirim cerita pendek atau tulisan-tulisannya untuk disiarkan.
Wayan berharap bisa menyelesaikan sekolah dan mewujudkan cita-citanya menjadi jumalis. Sepulangnya dari Belanda, ia mendapat kabar gembira berupa kelulusannya dari ujian nasional. “Saya ingin membahagiakan ibu saya,” ujarnya sendu. Matanya bulat menerawang. Dia sangat sadar kemiskinan mengancam kelanjutan pendidikannya. “Anne Frank lebih susah hidupnya. Jika dia tak mengeluh, saya juga seharusnya tidak,” ujarnya kemudian.
Sumber: http://bataviase.co.id/node/213068

Akhirnya terbit setelah Tiga Bulan dalam Penantian

Selasa, 22 Februari 2011

0 komentar
          Embun pagi mulai turun, hamparan kabut  tipis tidak mau kalah menyelimuti kota Pekanbaru (khususnya disekitar tempatku) menit demi menit menanti pukul 06:00. Waktunya istirahat setelah duabelas jam bekerja mulai pukul 18:00 semalam. Tidak ada yang istimewa dihari ini, tubuh dan pikiranku sudah sepekat untuk segera menghampiri tempat tidur. Beberapa bulan ini suhu tubuhku selalu naik saat menjelang akhir bulan mungkin karena bertambahnya kesibukan dan tanggung jawab yangharus diselesaikan. Tagihan Listrik, Speddy dan Telepon sudah beres tinggal merekapitulasi dan menyusun laporan bulanan sehingga hari ini aku bisa lebih santai.
         Setelah mandi aku merasa suhu tubuhku meningkat bahkan lebih dari biasanya. Beberapa kali berpindah tempat tetap saja aku tidak tidur nyenyak.
         Siang berakhir, tetap saja tidak ada yang istimewa selain dari porsi makanku yang bertambah (hehe apa hubungannya). Setelah makan aku berkunjung kerumah kedua didunia maya, ada beberapa pesan di inbox dan notif memberitahukan aktifitas rekan-rekan facebooker selama sehari ini. Biasa saja, sekedar say hello atau ledekan yang meminta senyuman.
         Kabar bahagia itu menyapa dalam Tag sebuah catatan.
ALHAMDULILLAH....AKHIRNYA ANTOLOGI KISAH KASIH IBU [IBUKU ADALAH....] TELAH TERBIT
oleh Jazim Naira Chand pada 22 Februari 2011 jam 12:04

         Alhamdulillah Puji Syukur Kepada Allah Swt. Kabar bahagia yang kunantikan sejak tigabulan ini (22 Desember 2010-22 Februari 2011) akhirnya menyapa. Antologi Kisah Kasih Ibu [Ibuku Adalah…] ini merupakan antologi pertamaku. tidak sabar rasanya menunggu buku [salah satu mimpi yang menjadi nyata] itu tiba…


Telah terbit di LeutikaPrio!!!
Judul : Ibuku Adalah.... (Antologi Kisah Kasih Ibu)
Penulis : Jazim Naira Chand, dkk
Tebal : vi + 148 hlm
Harga : Rp 36.000,-
Ibuku Adalah Batas Logikaku
Ibuku Adalah Buku Kehidupan
Ibuku Adalah Perempuan Tertangguh
Ibuku Adalah Cawan Cinta Yang Tak Habis Kureguk
Ibuku Adalah Setiap Tarikan Nafasku
Ibuku Adalah Pembelajar Kehidupan Ulung
Ibuku Adalah... Dia Tak Terdefinisikan !
Buku ini ditulis oleh 37 orang penulis, yang masing-masing menceritakan kisah nyata tentang suka, duka juga nesatapa perjalanan hidup seorang wanita bergelar Ibu, dan wanita itu adalah Ibu kandung mereka sendiri.
Melalui buku ini juga, anda akan diajak untuk memahami dan menghayati tentang bagaimana peran sosok seorang Ibu dalam memperjuangkan kehidupan keluarganya.
37 Penulis itu adalah :
1. Ibuku Adalah Perempuan Tertangguh, Anita Ba’daturohman
2. Ibuku Adalah Batas Logikaku, Mutaminah Sang Penulis
3. Ibuku Adalah Buku Kehidupan, Endang Ssn
4. Ibuku Adalah Sumber Pengampunan, Mytha Nugroho
5. Cawan Cinta Yang Tak Habis Kureguk, Fitri Gita Cinta
6. Ibuku Adalah Surga Bagi Keluarga, Eric Shandy Admadinata
7. Ibuku Adalah Permata Jiwaku, Asni A Sueb Aan
8. Ibuku Adalah Nafas Hidupku, Mieny Angel
9. Ibuku Adalah….She’s My Real Hero, Karin Maulana
10. Selembar Surat Untuk Ibu (Happy Mother Day), Inggar Saputra
11. Bait-Bait Curahan Hati Untuk Ibu, Visya Blue
12. Ibuku Perempuan Yang Kupanggil Mamak, Dwi Endah Septyani
13. Ibuku Adalah Segalanya, Mas Adi
14. Ibuku Adalah Bidadari Surga, Yully Riswati
15. Ibuku Adalah Bintang Hidupku, Vera Yudita
16. Ibuku Adalah Sosok Tangguh Nan Bersahaja, Tri Lego Indah
17. Ibuku Adalah Setiap Tarikan Nafasku, Sanchia Yorftberth
18. Ibuku Adalah Pembagi Cinta, Rossy Meilani
19. Ibuku Adalah... Dia Tak Terdefinisikan, Robin Wijaya
20. Ibuku Adalah Pembelajar Kehidupan Ulung, Phoenix Wibowo
21. Ibu Adalah Segalanya, Nessa Kartika
22. Ibuku Adalah Mamak Super Tangguh, Lin Lanisa Jingga
23. Ibuku Selalu Dihati Dan Dinanti, Kiki Masduki
24. Ibuku Adalah Kunci Surgaku, Hendy Lazuardy Hg
25. Ibu Adalah Super Heroku, Ragil Kuning
26. Ibuku Adalah Pengukir Sejarah Terhebat, Fauziah Harsyah
27. Cukup, Ibuku Adalah Bumi Bagiku, Dyah InsyaAllah Bisa
28. Ibuku Adalah Pelita Hidupku, Deva Del Amor
29. Pencipta Kacang Telur “Ridho”, Mohammad Rasyid Ridho
30. Ibuku Adalah Kerinduan Yang Tak Terbatas, Eros Rosita
31. Ibuku Adalah Bidadariku, Oksa Puko Yuza
32. Ibuku Adalah Segalanya Bagi Hidupku, Fernando
33. Sms Dari Anak-Anak Ibuku, Annas Tupank
34. Ibuku Adalah Irreplaceable Mom, Mega Anindyawati
35. Aku Mencintaimu Lebih dari yang Kutahu, Fiyan Arjun
36. Tentang Cap Jempol Ummi , Dang Aji
37. Senyum Cinta Perempuan Hebat dalam Hidupku, Jazim Naira Chand
***Pesan buku Ibuku Adalah... dengan menginbox Dang Aji Sidik, Jazim Naira Chand atau Leutika Prio. Harga Rp 36.000,- + ongkos kirim.
***Bagi sahabat yang berada di Privinsi Riau dan sekitarnya bisa memesan dengan cara menginbox saya. (dengan harga yang sama). 
Met Order all

Antologi Kisah Kasih Ibu "Ibuku Adalah..." terbit

0 komentar
          Embun pagi mulai turun, hamparan kabut  tipis tidak mau kalah menyelimuti kota Pekanbaru (khususnya disekitar tempatku) menit demi menit menanti pukul 06:00. Waktunya istirahat setelah duabelas jam bekerja mulai pukul 18:00 semalam. Tidak ada yang istimewa dihari ini, tubuh dan pikiranku sudah sepekat untuk segera menghampiri tempat tidur. Beberapa bulan ini suhu tubuhku selalu naik saat menjelang akhir bulan mungkin karena bertambahnya kesibukan dan tanggung jawab yangharus diselesaikan. Tagihan Listrik, Speddy dan Telepon sudah beres tinggal merekapitulasi dan menyusun laporan bulanan sehingga hari ini aku bisa lebih santai.
         Setelah mandi aku merasa suhu tubuhku meningkat bahkan lebih dari biasanya. Beberapa kali berpindah tempat tetap saja aku tidak tidur nyenyak.
         Siang berakhir, tetap saja tidak ada yang istimewa selain dari porsi makanku yang bertambah (hehe apa hubungannya). Setelah makan aku berkunjung kerumah kedua didunia maya, ada beberapa pesan di inbox dan notif memberitahukan aktifitas rekan-rekan facebooker selama sehari ini. Biasa saja, sekedar say hello atau ledekan yang meminta senyuman.
         Kabar bahagia itu menyapa dalam Tag sebuah catatan.
ALHAMDULILLAH....AKHIRNYA ANTOLOGI KISAH KASIH IBU [IBUKU ADALAH....] TELAH TERBIT
oleh Jazim Naira Chand pada 22 Februari 2011 jam 12:04

         Alhamdulillah Puji Syukur Kepada Allah Swt. Kabar bahagia yang kunantikan sejak tigabulan ini (22 Desember 2010-22 Februari 2011) akhirnya menyapa. Antologi Kisah Kasih Ibu [Ibuku Adalah…] ini merupakan antologi pertamaku. tidak sabar rasanya menunggu buku [salah satu mimpi yang menjadi nyata] itu tiba…
Judul : Ibuku Adalah.... (Antologi Kisah Kasih Ibu)
Penulis : Jazim Naira Chand, dkk
Tebal : vi + 148 hlm
Harga : Rp 36.000,-

Buku ini ditulis oleh 37 orang penulis, yang masing-masing menceritakan kisah nyata tentang suka, duka juga nesatapa perjalanan hidup seorang wanita bergelar Ibu, dan wanita itu adalah Ibu kandung mereka sendiri.
Melalui buku ini juga, anda akan diajak untuk memahami dan menghayati tentang bagaimana peran sosok seorang Ibu dalam memperjuangkan kehidupan keluarganya.

37 Penulis itu adalah:
1. Ibuku Adalah Perempuan Tertangguh, Anita Ba’daturohman
2. Ibuku Adalah Batas Logikaku, Mutaminah Sang Penulis
3. Ibuku Adalah Buku Kehidupan, Endang Ssn
4. Ibuku Adalah Sumber Pengampunan, Mytha Nugroho
5. Cawan Cinta Yang Tak Habis Kureguk, Fitri Gita Cinta
6. Ibuku Adalah Surga Bagi Keluarga, Eric Shandy Admadinata
7. Ibuku Adalah Permata Jiwaku, Asni A Sueb Aan
8. Ibuku Adalah Nafas Hidupku, Mieny Angel
9. Ibuku Adalah….She’s My Real Hero, Karin Maulana
10. Selembar Surat Untuk Ibu (Happy Mother Day), Inggar Saputra
11. Bait-Bait Curahan Hati Untuk Ibu, Visya Blue
12. Ibuku Perempuan Yang Kupanggil Mamak, Dwi Endah Septyani
13. Ibuku Adalah Segalanya, Mas Adi
14. Ibuku Adalah Bidadari Surga, Yully Riswati
15. Ibuku Adalah Bintang Hidupku, Vera Yudita
16. Ibuku Adalah Sosok Tangguh Nan Bersahaja, Tri Lego Indah
17. Ibuku Adalah Setiap Tarikan Nafasku, Sanchia Yorftberth
18. Ibuku Adalah Pembagi Cinta, Rossy Meilani
19. Ibuku Adalah... Dia Tak Terdefinisikan, Robin Wijaya
20. Ibuku Adalah Pembelajar Kehidupan Ulung, Phoenix Wibowo
21. Ibu Adalah Segalanya, Nessa Kartika
22. Ibuku Adalah Mamak Super Tangguh, Lin Lanisa Jingga
23. Ibuku Selalu Dihati Dan Dinanti, Kiki Masduki
24. Ibuku Adalah Kunci Surgaku, Hendy Lazuardy Hg
25. Ibu Adalah Super Heroku, Ragil Kuning
26. Ibuku Adalah Pengukir Sejarah Terhebat, Fauziah Harsyah
27. Cukup, Ibuku Adalah Bumi Bagiku, Dyah InsyaAllah Bisa
28. Ibuku Adalah Pelita Hidupku, Deva Del Amor
29. Pencipta Kacang Telur “Ridho”, Mohammad Rasyid Ridho
30. Ibuku Adalah Kerinduan Yang Tak Terbatas, Eros Rosita
31. Ibuku Adalah Bidadariku, Oksa Puko Yuza
32. Ibuku Adalah Segalanya Bagi Hidupku, Fernando
33. Sms Dari Anak-Anak Ibuku, Annas Tupank
34. Ibuku Adalah Irreplaceable Mom, Mega Anindyawati
35. Aku Mencintaimu Lebih dari yang Kutahu, Fiyan Arjun
36. Tentang Cap Jempol Ummi , Dang Aji
37. Senyum Cinta Perempuan Hebat dalam Hidupku, Jazim Naira Chand

Ps: Buku ini sudah bisa dipesan sekarang via inbox Fb Leutika Prio dengan subjek PESAN IBUKU ADALAH. Ongkir untuk wilayah jawa 10rb, untuk luar jawa 15rb. Untuk Pembelian di atas 90rb, GRATIS ONGKIR.

Untuk para sahabat yang berada di Pekanbaru atau Provinsi Riau dan sekitarnya bisa juga memesan secara kolektif melalui saya via inbox facebook atau sms ke 0852 7873 7651. Terimakasih
Met Order all

Nuryati, Mantan TKW yang berhasil menjadi Dosen

Senin, 27 Desember 2010

1 komentar
Pemerintah memberikan apresiasi kepada para buruh migran atau Tenaga Kerja Indonesia (TKl) yang sekembalinya dari negeri rantau beralih profesi menjadi wirausaha di negeri sendiri, bahkan mampu memberikan nilai tambah untuk masyarakat dan lingkungan di sekitarnva.
Apresiasi kepada para buruh migran diwujudkan dengan Indonesia Migran Worker’s Award tahun 2010 pada peringatan Hari Migran Inter­nasional (International Migrants Day) yang dicanangkan Perse­rikatan Bangsa Bangsa (PBB) setiap tanggal 18 Desernber.

Penghargaan tersebut diserahkan oleh Menakretrans Muhaimin Iskandar di Kantor Wapres, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (20/12/2010).

Kegiatan yang digagas UKM­ Center FEUI bekerjasama deng­an Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Kemenakertrans, Kementerian Pember­dayaan Perempuan dan BNP2TKI ini memberikan penghargaan untuk empat kate­gori, yaitu Puma TKI Wira­usaha, Remitansi Produktif, Purna TKI Motivator dan Peng­hargaan Petugas Pelayanan Kepulangan Pekerja Migran.
Para finalis kebanyakan ber­asal dari kantong-kantong TKI seperti NTB, Jabar, Lampung, Jatim dan Jateng. Setelah dilakukan penjurian beberapa ta­hap akhirnya pemerintah mem­berikan satu penghargaan kepada TKI terbaik untuk masing­-masing kategori. Untuk Peng­hargaan Purna TKI Wirausaha dimenangkan Siti Maryam, mantan TKI Hongkong asal Trenggalek, Jawa Timur. Sele­pas bekerja sebagai TKI, Siti membuka wirausaha di bidang salon dan video shooting. Atas keberhasilannya ini, Siti menda­patkan piala dari Menko Kesra dan uang pembinaan.
Penghargaan dari Meneg PP untuk kategori Remitansi Produktif dimenangkan oleh Keluarga Jaharudin asal Bima, Nusa Tenggara Barat. Keluarga Jaha­rudin berhasil memanfaatkan remitansi dari anaknya yang bekerja di Arab Saudi untuk modal usaha mebel dan biaya sekolah anak-anaknya.
Sedangkan Pcnghargaan Menakertrans untuk kategori Purna TKI Motivator berhasil diraih Nuryati Dosen Untirta dan Advokasi Pemberdayaan asal Serang, Banten. Nuryati yang pernah jadi pembantu rumah tangga di Arab Saudi, menggunakan hasil usahanya untuk melanjutkan sekolah dan sekarang menjadi dosen di Fakul­tas Hukum Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Banten.
Terakhir, Penghargaan Ke­pala BNP2TKI untuk Petugas Pelayanan Kepulangan Pekerja Migran Terbaik diraih Mohammad Adib, Petugas di Ban­dara Adi Sumarmo, Solo, Jawa Tengah. Meski mengaku sangat butuh uang, ternyata Mohammad Adib tidak mau memeras TKI. Dia lebih memilih untuk mem­bantu, membimbing dan menga­rahkan TKI.
Menakertrans mengatakan penghargaan ini merupakan salah satu bentuk apresiasi dari pemerintah kepada TKI yang berhasil beralih dari pekerja di negeri orang menjadi wira­usaha di negeri sendiri bahkan mampu memberikan nilai tam­bah untuk masyarakat dan lingkungan sekitar.
"Mereka patut menjadi con­toh dan inspirasi bagi seluruh TKI beserta keluarganya, agar hasil bekerja di luar negeri dapat benar-benar dimanfaatkan un­tuk mengembangkan wirausaha dan membuka lapangan kerja di dalam negeri, di kampung halamannya sendiri, " kata Muhaimin.


Kisah Nuryani, TKI Motivator yang berhasil menjadi Dosen
Sosok Nuryati, seorang man­tan TKI yang kini menjadi dosen berhasil meraih penghargaan kategori Purna TKI Motiva­tor. Dosen Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Se­rang, Banten, ini pernah menco­ba mengadu nasib di Arab Saudi. 
Perempuan asal Subang ini melamar sebagai baby sitter selama tiga tahun pada 1998 hingga 2001. Sebelumnya ia tak membayangkan akan beker­ja di tanah rantau setelah lulus SMA. Sebab, perempuan kela­hiran 2 Juni 1979 itu adalah lulusan terbaik SMA Prisma, Serang, Banten. Bahkan sejak kelas satu, dia langganan juara dan mendapat beasiswa. Dikarenakan orang tuanya tak punya biaya untuk melan­jutkan hingga kuliah, akhirnya ia bulatkan tekad untuk berang­kat menjadi TKI di Arab Saudi. Meski begitu, dalam dirinya memendam impian untuk bisa berkuliah setelah pulang dari mcngumpulkan uang dari pe­kerjaan di Arab. Hingga isi koper yang akan dibawa ke Arab pun berisi buku-buku pelajaran SMA dan buku pengetahuan umum. Meski ke­inginannya untuk bisa menge­nyam bangku kuliah pupus, ia ingin tetap bisa terus belajar.
Di Arab, Nuryati diterima bekerja di keluarga dokter, bahkan dinilai well educated, ia kerap diminta mendampingi putri sang majikan saat belajar dan mengerjakan tugas sekolah. Ia juga mendapat izin tidur siang dan meluangkan waktu untuk membaca buku. Selama di sana ia berusaha berdisiplin dalam berbagai hal. Termasuk dalam pembukuan gaji yang diterima. Bahkan, ia selalu meminta kwitansi pembayaran gaji yang ditandatangani sang majikan. Hal ini dilakukan agar ia bisa tahu berapa gaji sebenarnya yang diterima seti­ap bulan.
Selain itu, untuk kesela­matan pribadi, nomor-nomor telpon penting, seperti nomor konsulat dan kedutaan dicatatnya dengan sulaman berkode khusus di kerudung yang selalu dipakainya ke mana-mana. De­ngan cara inilah, hal-hal yang dikhawatirkan pun tidak terjadi.
Setelah bekerja selama 2 tahun 8 bulan, Nuryati tak sengaja menyaksikan acara wisuda di Universitas Al Azhar di televisi lokal. Hasrat untuk pulang kian menggebu-gebu. Akhirnya ia berpamitan kepada majikannya untuk pulang ke Indonesia. Selang tiga hari sekembali ke tanah air, ia langsung mengi­kuti tes masuk Fakultas Hukum Untirta. Dia pun dinyatakan lulus. Kuliah sambil bekerja pun harus ia lakoni. Di tempatnya bekerja, Pizza Hut Cilegon, ia harus belajar secara sembunyi­-sembunyi di toilet. Bahkan di pintu toilet diberi tanda toilet dalam perbaikan, untuk meng­hindari teguran dari atasan.
Kecerdasan dan ketekunan yang dijaganya membuat Nur­yati mampu lulus dengan IPK 3,7 dan meraih predikat cum laude. Dia lulus dalam waktu tiga tahun dan menjadi satu­-satunya sarjana di kampung hingga merubah hidupnya seca­ra drastis dan menyenangkan.
Empat tahun kemudian, Nur­yati menyabet gelar master bidang hukum dari Universitas Jayabaya, Jakarta. Ia herha­sil meraih sertifikat advokat dari Persatuan Advokat Indo­nesia, namun kemudian memu­tuskan untuk mengabdi di alma­maternya, menjadi dosen Untirta.
Pengalamannya sebagai mantan TKI dan kini jadi dosen, Nuryati kerap mendapat undangan menjadi pembicara da­lam seminar-seminar tentang ketenagakerjaan. Kini ia sedang menempuh studi doktoral di Universitas Padjajaran Ban­dung.